Ada Dongeng Dibalik Populernya Jambu Mete Di Gunungkidul

Ada Cerita Dibalik Populernya Jambu Mete Di Gunungkidul – Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke tempat tropis dan subtropis lainnya menyerupai Bahana, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Srilangka, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Jambu mete dikenal di seluruh Nusantara dengan nama yang berbeda-beda. Di Sumatera Barat jambu mete disebut dengan jambu erang, sementara di Lampung dijuluki gayu, di tempat Jawa Barat dijuluki jambu mede, di Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi nama jambu monyet, di Bali jambu jipang atau jambu dwipa, dan di Sulawesi Utara disebut buah yaki. Yang lebih terkenal dari jambu mede yakni bijinya. Biji jambu mete terletak di luar daging buah. Biasanya, biji ini dikeringkan dan digoreng untuk dijadikan banyak sekali macam penganan.

Tanaman jambu mete merupakan salah satu tanaman yang bisa hidup baik pada lahan marginal beriklim kering menyerupai di tempat Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Tanaman ini diperkenalkan pertama kali di Desa Semuluh lor, Kabupaten Gunung Kidul pada tahun 1922 oleh seorang pamong desa. Lama kelamaan tanaman ini menyebar luas di tempat tersebut seiring dukungan dari kegiatan pemerintah dalam membangun subsektor perkebunan yang memberi tekanan pada pengembangan tanaman jambu mete.

Ada Cerita Dibalik Populernya Jambu Mete Di Gunungkidul  Ada Cerita Dibalik Populernya Jambu Mete Di Gunungkidul

Populernya Jambu Mete Di Gunungkidul

Jambu mete nyatanya bisa menghidupi masyrakat di desa Gunungkidul. Pada tahun 70-an Kabupaten Gunungkidul masih merupakan tempat miskin, namun demikian Kabupaten Gunung Kidul merupakan penghasil gaplek terbesar di wilayah Propinsi Daerah spesial Yogyakarta. Untuk menambah penghasilan para petani maka pemerintah setempat membuka lahan pertanian jambu mete dengan derma bibit dari pemerintah Negeri Belanda. Dipilihnya jambu mete alasannya yakni tanaman ini sangat cocok dengan kondisi tanah di tempat Gunung Kidul.

Dengan semakin berkembangnya penanaman jambu mete mengakibatkan produksi jambu mete cukup tinggi. Untuk itu, pemerintah mendirikan pabrik pengolahan jambu mete di Desa Kelor Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Dengan tenaga kerja yang bermukim di sekitar pabrik, sehingga masyarakat sekitar mempunyai penghasilan tambahan. Pabrik ini berhasil mengolah jambu mete menjadi kacang mete yang dipasarkan sampai luar negeri.

Tanaman jambu mete merupakan komoditi ekspor yang banyak manfaatnya, mulai dari akar, batang, daun, dan buahnya. Buah mete semuanya sanggup diolah menjadi beberapa bentuk olahan menyerupai sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan.