Kesenian Tradisional Wayang Beber Di Gunungkidul Mulai Langka

Kesenian Tradisional Wayang Beber Di Gunungkidul Mulai Langka Kesenian Tradisional Wayang Beber Di Gunungkidul Mulai Langka

Kesenian Tradisional Wayang Beber Di Gunungkidul Mulai Langka – Wayang Beber merupakan kesenian rakyat pinggiran yang hampir punah di Indonesia ini. Bagaimana tidak, melihat dari jumlah wayang beber itu sendiri juga hanya ada dua, satu di tempat Pacitan dan satu lagi berada di Gunungkidul, Yogyakarta. Selain itu, pementasan wayang beber itu sendiri juga sanggup dikatakan minim, alasannya yakni memang tidak adanya agenda rutin maupun minat masyarakat untuk menanggap pementasan wayang beber itu sendiri. Hal itu dikarenakan oleh perubahan jaman dan teknologi yang ada, yang risikonya mengubah selera masyarakat juga.

Wayang Beber merupakan salah satu dari 3 jenis wayang di Kabupaten Gunungkidul menurut cara pertunjukannya dan jenis ceritanya selain wayang kulit dan wayang orang. Wayang orang dan wayang beber ketika ini cukup langka, satu-satunya kesenian Wayang Beber terdapat di Padukuhan (Dusun) Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Wayang kulit dipertunjukkan malam hari sesudah tradisi rasulan atau higienis desa berlangsung dan kegiatan-kegiatan seni budaya lainnya.

Sejarah Wayang Beber

Kesenian Tradisional Wayang Beber Di Gunungkidul Mulai Langka Kesenian Tradisional Wayang Beber Di Gunungkidul Mulai Langka

Wayang beber merupakan peninggalan kesenian semenjak tahun 1700-an, pada ketika kerajaan Kediri. Waktu itu wayang beber merupakan kesenian rakyat yang populer. Hingga pada suatu ketika terjadi perang dan kriya dari wayang beber ini pun tersebar dimana-mana. Sampai kini hanya tinggal dua, dan menjadi suatu warisan turun temurun.

Menurut Kitab Sastro Mirudo, Wayang Beber dibentuk pada tahun 1283, dengan Condro Sengkolo, Gunaning Bujonggo Nembah Ing Dewo (1283), Kemudian dilanjutkan oleh Putra Prabu Bhre Wijaya, Raden Sungging Prabangkara, dalam pembuatan wayang beber. Wayang Beber juga memuat banyak kisah Panji, yakni Kisah Cinta Panji Asmoro Bangun yang merajut cintanya dengan Dewi Sekartaji Putri Jenggolo.