Menggali Sejarah Pantai Sundak Gunungkidul

Menggali Sejarah Pantai Sundak Gunungkidul Menggali Sejarah Pantai Sundak Gunungkidul

Menggali Sejarah Pantai Sundak Gunungkidul – Pantai Sundak Wonosari, salah satu pantai yang sering dikunjungi wisatawan. Pasir putih yang higienis dan pemandangan watu karang memang memanjakan mata dan menyegarkan pikiran.�Pantai Sundak Wonosari Gunungkidul Yogyakarta merupakan objek wisata pantai di tempat selatan Gunung Kidul yang mempunyai pemandangan yang indah serta menyimpan dongeng dibalik nama �Sundak� itu sendiri. Sundak konon diambil dari perkelahian antara Asu (anjing) dan Landak.

Di pantai Sundak terdapat masjid dan ruang kosong yang kini dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Sementara di sebelah timur terdapat gua yang terbentuk dari watu karang berketinggian kurang lebih 12 meter. Jika Memasuki gua, akan dijumpai sumur alami tempat penduduk mendapat air tawar.

Sejarah Pantai Sundak

Di pantai sundak terdapat masjid dan ruang kosong yang kini dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Sementara di sebelah timur terdapat gua yang terbentuk dari watu karang berketinggian kurang lebih 12 meter. Jika Memasuki gua, akan dijumpai sumur alami tempat penduduk mendapat air tawar.

Di pantai sundak ini Jika animo hujan tiba, banyak air dari daratan yang mengalir menuju lautan. Akibatnya, dataran di sebelah timur pantai membelah sehingga membentuk bentukan menyerupai sungai. Air yang mengalir menyerupai mbedah (membelah) pasir. Bila kemarau datang, kepingan itu menghilang dan seiring dengannya air maritim tiba membawa pasir. Fenomena alam inilah yang menjadikan nama pantai dahulu menjadi Wedimbedah (pasir yang terbelah).

Tetapi perubahan nama berlangsung alasannya yaitu ada sebuah insiden menarik. Yaitu pada jaman dahulu di Suatu siang, ada seekor anjing (bahasa Jawa: Asu) memasuki gua karang dan menemukan seekor landak laut. Dan akhinya landak maritim itupun berhasil dimakan separuhnya. Arjasangku, pemilik anjing terheran-heran melihat ada setengah badan landak maritim di ekspresi anjingnya serta keadaan anjingnya yang lembap kuyub. Lalu ia Mengecek ke dalam gua,dan ternyata pemilik menemukan setengah badan landak maritim yang tersisa. Dan tidak disangka terdapat mata air didalam gua tersebut, alasannya yaitu sudah usang penduduk didaerah pantai ini kekurangan air alhasil penduduk sekitar memanfaatkan mata air ini untuk keperluan sehari harinya mereka hingga kini ini.

Nah, semenjak itu, nama Wedibedah menjelma Sundak, yaitu akronim dari asu (anjing dalam bahasa Indonesia) dan landak.