Tradisi Gunungkidul Jamasan Tosan Aji Di Bulan Suro

Tradisi Gunungkidul Jamasan Tosan Aji Di Bulan Suro – Tosan aji merupakan harta kekayaan masyarakat Jawa yang tak ternilai harganya. Berbagai macam pusaka peninggalan para tokoh terdahulu sampai sekarang masih dilestarikan dan diperlakukan secara moral jawa.

Di Nglipar Gunungkidul, ratusan pusaka masa kerajaan Majapahit dan kerajaan Mataram dimandikan atau dijamas untuk perawatan pusaka. Penjamasan ini rutin dilakukan pada bulan Muharram atau bulan Suro.

Tradisi Gunungkidul Jamasan Tosan Aji Di Bulan Suro  Tradisi Gunungkidul Jamasan Tosan Aji Di Bulan Suro

Penjamasan ini bertujuan untuk merawat pusaka. Merawat Tosan aji untuk memperkuat kekuatan magis yang terkandung di dalamnya dan merawat secara fisik untuk mempertahankan bentuk (dapur), pamor, dan menghilangkan karat (korosi) pada besi aji itu sendiri. Selain itu, bertujuan untuk melestarikan budaya leluhur supaya tidak tergerus zaman.

Ritual penjamasan didahului dengan menyiapkan bunga setaman, jajanan pasar, 7 jenis buah dan tumpeng. Sementara itu, untuk penjamasan sendiri memakai air kelapa hijau, nanas, jeruk nipis dan buah mengkudu yang sudah matang. Untuk pusaka yang sudah terkena karat sangat parah, harus direndam selama tiga hari untuk menghilangkan karat tersebut.

Pusaka yang sudah dikeluarkan dari warangka, dilepas gagang (ukiran) kemudian direndam dalam air yang ditaburi bunga tujuh rupa.Kurang lebih dua jam kemudian, dibersihkan karatnya memakai air jeruk nipis. Setelah bersih, dijemur, dan kering, pusaka-pusaka tersebut akan dibalurkan dengan ramuan jamas (warangan) bersama minyak misik. Proses penjamasan simpulan dan aksesoris warangka dan gesekan pun dipasang kembali.